Ketika ‘Umar ibnu al-Khaththab Ingin Menjadi Pemimpin
… Rasulullah membimbing para shahabatnya di atas al-Qur’an, as-Sunnah, keimanan, kejujuran, dan keikhlasan kepada Allah dalam setiap amalan. Jauh dari cara-cara politik dan ambisi terhadap kedudukan yang tinggi.
Karena itu, beliau tidak memberikan harapan kepada seorang pun di antara mereka -baik sebelum maupun sesudah masuk Islam- tentang suatu jabatan dalam daulah (negara).
Inilah ‘Umar bin al-Khaththab, seorang pembesar shahabat dan orang yang paling kuat kepribadiannya di antara mereka. Rasulullah tidak memberinya janji jabatan. Hatinya juga tidak menolah kepada jabatan. Hingga datang hari (perang) Khaibar -yakni 20 tahun setelah kenabian- beliau (Rasulullah) mengagetkan telinga mereka dengan sabdanya:
>> “Sungguh, akan aku berikan bendera ini besok kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah membuka (Khaibar) melalui tangannya.”<<
Pada malam itu, 'Umar dan para shahabat berbincang-bincang tentang siapa yang akan diberi bendera itu. 'Umar berkata, "Tidaklah aku mencintai kepemimpinan kecuali pada hari itu."
[Hadits riwayat Imam Muslim no.33 & 34, Imam al-Bukhari no.3009 & 3701]
Sumber: Cara Para Nabi Berdakwah (Manhajul-Anbiya' fid-Da'wah ilallah fihil-Hikmah wal-'Aql), Syaikh (Prof. Dr. Rabi' bin Hadi al-Madkhali, Pustaka Sumayyah – Pekalongan, hal.141-142