Beranda > Log of My Life > Jadi Ketua ROHIS…?! Mau? Jebakan Kekuasaan? Siapa Mau?! (Updated!)

Jadi Ketua ROHIS…?! Mau? Jebakan Kekuasaan? Siapa Mau?! (Updated!)

Langsung ke masalahnya, ROHIS itu organisasi ke-Islam-an di sekolah (SMU/A) di bawah OSIS. Gak beda-beda banget. Soal perasaan, siapa yang tidak mau jadi selebritis di kampus/sekolah? (Tapi, saya tidak menyatakan kalau perasaan saya seperti itu. Dan yang saya ingat, saya ingin jadi orang biasa saja. Maksudnya, saya hanya ingin memungkinkan kalau di ROHIS itu juga ada pencari kekuasaan. Politik itu menarik bagi kalangan yang demikian.)

Yang bisa ingin saya sebutkan, saya tidaklah ikut yang namanya Rohis untuk memburu jabatan ketua atau apa. Saya bisa dikatakan “aktif” di Rohis. Tapi untuk jadi pengurus nanti dulu, itu masalah lain. Masalahnya lagi, kemudian saya lebih berubah pikiran entah beberapa lama sebelum pergantian pengurus Rohis.

(Kemudian) seorang “teman” minta saya ikut mendaftar jadi pengurus karena alasan … (yang tidak perlu saya sebutkan lah). Saya pikir bolehlah jadi pengurus yang bantu-bantu sebisanya. Tapi ternyata, ketika mau dipilih ketua Rohis-nya, semua laki-laki (a.k.a. ikhwan) di-“wajib”-kan ikut jadi kandidat, dengan sistem demokrasi lagi, nanti orasi, ada voting, de el el lah pokoknya.

Saya sejak tahu itu sudah minta “hak” saya untuk tidak diikutkan sebagai kandidat, tapi tidak boleh. Kemudian ketika sistemnya demokrasi, saya juga menolak hal ini. Tapi ternyata saya juga yang disalahkan. Katanya (kira-kira), Rohis ini masih punya pengurus lama, jadi …. Oh, sudahlah. Padahal dulu kata mereka Rohis itu dari, oleh, dan untuk kaum muslimin Smansa. Gmana? (Demokrasi lho ini!)

Di sisi lain, saya juga dituduh pengin jadi Ketua Rohis. Saya pikir, dari mana mereka tahu saya pengin jadi ketua? Apa ketika saya tidak mendaftar jadi pengurus Rohis kecuali setelah ada permintaan dari “seseorang”, itu dianggap sebagai manuver politik, pura-pura tawadhu’? Atau itu isu yang dihembuskan bersama nafas mereka yang tidak suka? Kok jadi kotor ya politik di Rohis ini? Bukankah seharusnya…? Tapi, sudahlah.

Dituduh seperti ini saya ya… tidak merasa awalnya. Lha wong saya gak kayak gitu kok. Tidak merasakan efeknya juga awalnya. Tapi lama kelamaan terasa juga, lama-lama…. Padahal telah saya biarkan, dengan harapan, “itu hanya perasaan/prasangka/was-was saya saja”. Tapi itulah, manusia itu kalau sudah percaya pada gosip itu gak tahu kitanya mau bilang apa. Nanti membantah dikira hanya berkilah. Diam saja dikira benar adanya. Soalnya juga posisi saya sangatlah lemah. Akhirnya, diam saja lah. Barangkali badai segera berlalu. Tapi…, sudahlah.

[1.] Membicarakan hak saya, sebagai saudara se-Islam, teman sekolah, teman ngaji, teman baik, teman dekat, juga terutama lagi sebagai seseorang yang dimintai bantuan, sungguh saya merasa berhak untuk meminta tidak diikutkan dalam pemilihan ketua. Apalagi saya (atau kami) tidak diberitahu sebelumnya. Tapi itulah, sikap macam mana yang mereka berikan. Saya merasa begitu disusahkan. Siapa mau disusahkan seperti ini? Siapa juga yang membuat pemilihan yang demokratis di Rohis, itu pun belum saya tahu sampai sekarang.

[2.] Menjebak saya (atau dkk.) ke dalam sistem demokrasi, sungguh menghinakan. (Note: Orang silakan saja bangga siapanya ikut jadi kandidat ketua atau apa, ikut pemilu, dsb. Tapi sungguh, saya merasa terhina diperlakukan seperti ini. Orang ingin kekuasaan, ingin dikenang banyak orang. Tapi sudahlah, bagi kalian Muhammad al-Maghlani tidak usah menjadi kenangan.) Inilah mengapa saya bilang, saya dijerumuskan. Ini juga yang saya sebut sebagai “jebakan politik dan kekuasaan”. Ini mungkin bukan awal dari masalah, tapi ini saya perkirakan loncatan besar menuju banyak masalah yang lainnya.

[3.] Menuduh saya ingin jadi ketua. Padahal saya kira, saya ini sudah menjadi yang paling tidak mau jadi ketua saat itu, tapi beginilah nasibnya terjerumus dalam jebakan kekuasaan. Kalau sebenarnya mereka tidak mau saya jadi ketua, maka sudahlah, biar saya tidak ikut jadi kandidat saja. Benar-benar logika yang tidak beres bagi saya. (Menurut kalian bagaimana?) Bagaimana mencerna masalah ini? Kadang dalam hati saya ingin mengungkapkan segala kekesalan ini dengan mengatakan, “Ambil saja lah kekuasaan itu untuk kalian dan biarkan aku pergi dengan kehidupanku.” Apa mereka pikir tuduhan mereka bukan masalah apa-apa? Lagipula siapa yang merasakan dampaknya. Di dunia tanpa sanad/rawi (mata rantai periwayatan), orang yang menyebar gosip akan terlupakan, dan ketika itu tersebar dan dipercaya manusia maka biang keladinya pun tidak akan lagi bisa membela korbannya. Pikirlah. Pendusta mana bisa dipercaya. Iya kan? Lihatlah bekas-bekas yang kalian tinggalkan. Siapa yang mau berlaku adil?

[4.] Ada alasan kenapa saya lebih suka diam walau ada masalah banyak (yang salah satu yang besar adalah ini). Ketika di Rohis, tidak akan kita dapati mereka-mereka itu kecuali saudara kita, (kecuali ada penyusup di antara kami). Maka saya pun enggan mencari itu siapa dan agar kemudian bisa mengumumkannya pada “dunia”. Praktis itu akan merusak apa yang ada. Padahal baru tahu saja sudah menimbulkan sakit hati pada orangnya. Itulah mengapa saya malas mencari siapa dan siapa. Tapi, siapa yang tidak kesal hatinya dijebak seperti tadi. Siapa yang akan mengembalikan hati yang telah hancur. Saya pikir, “Biarlah, ini mungkin segera berlalu.” Korban paling murah kan ya… berkorban perasaan lah. Kenyataannya, dorongan jiwa, sakitnya perasaan, mungkin bisa diungkapkan dengan kalimat, “Hati ini enggan kembali kepada pengkhianat.” Salahnya perasaan saya atau salah siapa coba?

[5.] Ketika saya merasa tidak sanggup kecuali diam, maka saya di sini ingin menjelaskan bahwa banyak kabar yang tersebar tentang saya adalah cerita yang tidak jelas sanadnya, kacau matannya, dan kalau orang awam tentu lebih berhak dimaafkan. Tapi bagaimana dengan mereka yang sudah ngaji, salafi lagi. Bukankah ini jadi lebih mengecewakan. Tapi karena lemah daya, biarlah orang yang suka fitnah berlumuran dengannya. Toh, sebenarnya apa urusannya dengan Muhammad al-Maghlani. Kadang kalau kesal dan marah ingin rasanya saya katakan, “Makaaan itu kedustaan!”

Kesimpulan saya: “Inilah salah satu yang merusak persaudaraan: Kekuasaan.” Saya jadi enggan ngaji kepada mereka yang mementingkan urusan kekuasaan. Jelas, saya tidak suka dengan partai Pencari KekuaSaan (PKS). Demikian juga Rohis, logikanya… saya tidak berteman, menjalin ukhuwah, untuk diperlakukan seperti itu. Sungguh, kalau mereka/siapa saja mau beradu marah dengan yang namanya “Labib”, maka belum habis kemarahan di hati ini sebenarnya. Ditambah lagi bangkitnya suara-suara yang merusak suasana hati ini. Di sini tersimpan luka sampai tempat yang dalam.

Jika ingin saling menyalahkan, itu sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Setiap orang kan punya kesalahan. Tinggal dijumlah saja, pakai kalkulator atau yang lebih canggih darinya, siapa yang paling banyak salahnya di antara kita. Daripada mendengar suara-suara yang tidak mengenakkan, diri ini lebih suka mengenang saat dulu, ketika dalam kajian Al-Ustadz Abdul-Haq, ketika menasihatkan untuk “menghapus dendam kepada kaum muslimin.” Lebih baik mana daripada ini? Alhamdulillah, diri ini masih mengingatnya.

Mengertilah, seseorang yang diseret oleh emosi maka bagaimana dia akan mengerti keadaan dirinya? Dan, untuk mereka yang masih saja mengungkit soal Laskar Jihad di hadapan Muhammad al-Maghlani sungguh diri ini curiga, ada apa? Jika itu untuk menyakiti hati ini, maka sebenarnya tidak ada kata yang ingin terucap kecuali, “Selamat tinggal”. Saya merasa tidak butuh. Berikan saja kepada orang-orang yang lebih suka. [Update: Mungkin nggak sejauh itu, cuma saja hati ini akan lain jadinya.]

Saya menyadari bahwa saya juga salah, pernah salah, atau bahkan sering salah. Tapi ketika permasalahannya berubah menjadi gila, saya harus bagaimana? Mungkin saja mereka sebenarnya ingin mengatai saya ini Khawarij atau apa. Tapi mereka mengalihkannya supaya lebih halus kedengarannya di telinga para sekutunya. Entah seberapa suka mereka menyalahkan Muhammad atau Laskar Jihad karena telah melakukan kesalahan. Seolah semua adalah khilafiyyah dan selebihnya, tiada yang salah kecuali Laskar Jihad (atau juga Muhammad ini). Kalau mau bicara ya kita tanya, fiqih mereka itu dari mana? Tapi daripada ribut-ribut, diam sajalah. Sudahlah.

Saya tidaklah mengaku-aku suci, salafy sejati, atau yang semisalnya. Tentunya pada suatu masalah ada pembahasan. Jika pembicaraannya tentang ‘Aidh al-Qorni yang menyimpang, lalu kenapa berubah menjadi Laskar Jihad dan sebagainya? Atau inikah hawa nafsu untuk saling menyalahkan? Bukankah telah jelas fatwa ulama, telah jelas juga fiqihnya, lalu mau apa? Bagi saya, taat pada ulama seperti Syaikh Robi’ itu lebih dekat kepada keselamatan. Begitu juga soal Abul-Hasan al-Ma’ribi. Tentunya dan semestinya setiap kita memilih yang terbaik bagi diri kita. Adapun saya, lebih memilih mereka-mereka yang mensucikan dirinya dari pengaruh-pengaruh ‘Aidh al-Qorni atau Abul-Hasan al-Ma’ribi. Logikanya bisa dicerna dari kisah yang saya ingat tentang ‘Ali ibnul-Madini dan Imam Ahmad, juga Imam al-Bukhori, juga Imam Abu Hanifah (seandainya kalian tahu saja). Jika masih mau melanjutkan masalah Laskar Jihad, selesaikan saja urusan itu di antara kalian. Memangnya ada apa di antara kita?

Saya tidak mengaku paling benar dalam masalah ini atau yang lainnya, tapi bukankah ada timbangan keadilan. Di kalimat-kalimat terakhir ini juga saya ingin meminta maaf atas segala kesalahan saya. (Seperti mengulang momen lebaran atau perpisahan saja.) Tapi ini serius. Jika sudah saling memaafkan, sebenarnya biarlah yang terkubur tetap pada tempatnya. Kembali mengungkitnya bisa malah membangkitkan dendam, sakit hati, dan kesedihan. Saya dari dulu ragu mau menulis ini bagaimana. Tapi inilah yang ingin saya ungkapkan sekarang. Maaf kepada teman-teman, mungkin masalahnya bukan lagi tentang kalian. Banyak hal yang telah terjadi. Dunia ini tidak sepi dari masalah. Selesai.

Wallohu a’lam.

Afwan.

To be continued… (Klik di sini)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.