Ketika ‘Umar ibnu al-Khaththab Ingin Menjadi Pemimpin
… Rasulullah membimbing para shahabatnya di atas al-Qur’an, as-Sunnah, keimanan, kejujuran, dan keikhlasan kepada Allah dalam setiap amalan. Jauh dari cara-cara politik dan ambisi terhadap kedudukan yang tinggi.
Karena itu, beliau tidak memberikan harapan kepada seorang pun di antara mereka -baik sebelum maupun sesudah masuk Islam- tentang suatu jabatan dalam daulah (negara).
Inilah ‘Umar bin al-Khaththab, seorang pembesar shahabat dan orang yang paling kuat kepribadiannya di antara mereka. Rasulullah tidak memberinya janji jabatan. Hatinya juga tidak menolah kepada jabatan. Hingga datang hari (perang) Khaibar -yakni 20 tahun setelah kenabian- beliau (Rasulullah) mengagetkan telinga mereka dengan sabdanya:
>> “Sungguh, akan aku berikan bendera ini besok kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah membuka (Khaibar) melalui tangannya.”<<
Pada malam itu, 'Umar dan para shahabat berbincang-bincang tentang siapa yang akan diberi bendera itu. 'Umar berkata, "Tidaklah aku mencintai kepemimpinan kecuali pada hari itu."
[Hadits riwayat Imam Muslim no.33 & 34, Imam al-Bukhari no.3009 & 3701]
Sumber: Cara Para Nabi Berdakwah (Manhajul-Anbiya' fid-Da'wah ilallah fihil-Hikmah wal-'Aql), Syaikh (Prof. Dr. Rabi' bin Hadi al-Madkhali, Pustaka Sumayyah – Pekalongan, hal.141-142
TAFSIR AYATUL-AHKAM : Sebuah Kajian Ilmiah terhadap Tafsir dan Kandungan Ayat-ayat yang Memuat Hukum-hukum Fiqih (Insya Allah Rutin 2 Bulanan)
Hadirilah insya Allah…,
TAFSIR AYATUL-AHKAM
Sebuah Kajian Ilmiah Terhadap Tafsir dan Kandungan Ayat-Ayat yang Memuat Hukum-Hukum Fiqih
(insya Allah rutin 2 bulanan)
Bersama:
AL-USTADZ DZULQARNAIN BIN MUHAMMAD SUNUSI
(Beliau adalah murid mujaddid dan ahli hadits negeri Yaman Al-Imam Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah)
Pada:
Kamis 27 Mei 2010 / 13 Jumadil Akhir 1431 H – Jam 09.00-21.00 WIB
Bertempat di:
MASJID POGUNG RAYA (MPR)
Pogung Dalangan SIA XVI, YOGYAKARTA
Terbuka untuk UMUM (khusus ikhwan, relay akhwat di TK Islam Darussunnah Nitipuran)
Kontak person:
Abdul Hakam bin Rijaal bin ‘Amir (0813 9058 5415)
Abdul Malik bin Sofwan bin Sobari (0815 4882 8666)
Abu Bakroh Ahmad al-Makassari (0813 9244 2287)
Antara Diriku, Salafy, dan Laskar Jihad… (?)
Bismillah,
Melanjutkan pembicaraan yang lalu (jika belum baca tulisan sebelumnya, silakan baca dulu ini…), maka kali ini saya memperbaiki kalimat yang kemudian tidak saya kehendaki adanya. Pada dasarnya saya menanggapi pembicaraan tentang Laskar Jihad (LJ)atau yang berkaitan dengan itu biasa saja. Tapi disebabkan dulu sekali ada oknum yang membicarakan “seseorang” dengan sesuatu yang saya sangka berat sebagai kedustaan, menghubungkan ceritanya dengan LJ, dst., maka saya berusaha menganalisis perkataan siapa saja. Kalau tidak sanggup menyimpulkan ya saya biarkan. Kalau saya sangka benar ya mau diapakan?
Kalau oknum/seluruh ikhwan Laskar Jihad melakukan kesalahan ya urusan mereka. Ditambah lagi, saya bukan pembela Laskar Jihad, apalagi pembela kesalahan/dosa mereka. Lebih lagi, saya merasa tidak suka dengan keributan. Semoga Muhammad ini tidak menjadi pembela kemungkaran sedikitpun sama sekali.
Salah satu yang saya tidak suka adalah ketika saya dihubungkan dengan Laskar Jihad. Kenyataannya & pada dasarnya saya tidak tahu Laskar Jihad kecuali setelah itu dibubarkan. Yang tersisa ya manusia yang dulu bersama mereka (eks/veteran/ikhwan/ustadz: mantan LJ). Kalau ada orang yang tidak mempercayai ustadz-ustadz mantan Laskar Jihad ya silakan. Wong urusan kepercayaan itu bukan urusan saya. Kalau memang ada ustadz LJ/mantan Laskar Jihad berbuat tidak baik, itu kan urusan/dosa dia/mereka. Apa urusan Muhammad al-Maghlani?
Lebih lanjut lagi, jika dikatakan bahwa ada ustadz saya yang mantan Laskar Jihad yang tidak bisa dipercaya, maka saya tidak bisa serta merta mempercayai orang yang tidak saya ketahui kejujurannya. Apalagi kalau saya tidak menemukan buktinya. Kalau memang ada ustadz mantan Laskar Jihad yang larut dalam kesalahan ya silakan dinasihati. Kalau itu benar bukan ustadz yang baik, untuk apa juga kepadanya saya ngaji? Adapun saya, bukan orang yang tepat untuk dimintai menasihati. Saya kan hanya pendengar ceramah biasa. Cari orang lain saja!
Satu masalah lagi, sebagian orang yang entah ustadz, penuntut ilmu, juga yang bukan keduanya saya anggap telah membicarakan diri saya dengan tidak adil. Terutama ketika seolah dikatakan, “Muhammad ini jadi sesat karena Laskar Jihad“. Hendaknya orang yang berdusta menghentikan kedustaannya. Yang tidak tahu juga tidak usah angkat bicara. Mungkin diam lebih baik bagi Anda.
Satu hal/kejadian yang ingin saya ungkap, yakni soal MAPTA (Baca juga ini…). Banyak kezhaliman di saat MAPTA. Padahal banyak juga anggota Rohis di Bantara/Pramuka. Saya terlambat karena sholat Jum’at di kampung saya lama. Itu pun sudah pake diantar bapak saya, datang ke sekolah dibentak-bentak akhwat Bantara berjilbab besar. Bagaimana hati ini tidak bergetar? (Heran dengan dirinya). Yang lain ada yang disuruh menyanyi, entah menari, dst. (Saya sudah banyak lupa, agaknya saya sudah menua). Ketika itu sebenarnya saya banyak berada di UKS. Tapi di sanalah ada yang sepertinya mengusik perasaan saya, yakni saya mendengar perkataan (kira-kira) bahwa di luar sana ada realita kehidupan, (termasuk) saya diminta keluar UKS untuk berjuang. (Yang pura-pura sakit yang cuek saja kan ya?)
Mungkin bodohnya saya juga, kata-kata yang tadi itulah sepertinya yang membuat saya mempertanyakan makna “kehidupan”. Kekerasan di MAPTA itu bagian “kehidupan”…? Kekerasan itu salah satu “jalan”…? Entahlah. Entah juga bagaimana pikiran ini bertanya-tanya, (tapi saya sudah lupa). Mungkin orang yang membaca ini meremehkan perkaranya, dll-dst. Tapi seseorang yang terseret emosi (perasaan) akan cenderung sulit menganalisis dirinya. (Maka setidaknya dia butuh sesaat dalam ketenangan.) Yang bisa saya katakan adalah tadi, orang yang terseret emosi itu agak “gila” barangkali, walau tidak kelihatan/tidak terasa. Jangan mengartikan seperti orang bilang, bahwa emosi itu kemarahan. Jadi mungkin ini istilahnya emosi yang tersembunyi, terpendam, masuk ke hati yang dalam, atau apa (tanya saja orang psikologi). Ini dan beberapa masalah lainnya membuat hati tidak tentram jadinya.
Tapi, termasuk apa yang membuat saya (mungkin sedikit) mengerti adalah setelah membaca buku yang di sana ada ungkapan bijaksana, kira-kira:
Orang-orang sholih lebih suka menyerahkan urusan kekuasaan kepada ahlinya. Mereka lebih berbahagia dengan sedikitnya tanggung jawab.
(Tapi, judul bukunya saya tidak tahu lagi sekarang.) Ini juga yang membuat saya enggan ikut repot di politiknya orang-orang Rohis. Tapi setelah masuk ke dalam jebakan kekuasaan, entah mengapa, kemudian ada yang berubah dalam diri saya. Barangkali itulah “hawa nafsu Ikhwani” (maksudnya: pemikiran Ikhwanul-Muslimin/IM yang menyeret saya ke lebih dari yang saya tidak perkirakan sebelumnya). Dan kenyataannya, Rohis itu seolah penjelmaan IM di sekolah/SMA. Bantara mungkin sayap militernya. Entahlah.
Berubah, sampai-sampai saya ikut CABA (Calon Bantara/pengurus Pramuka). Hanya beberapa hari saja saya ikut, kemudian mengundurkan diri. Tapi mungkin di situlah saya merasakan bahwa “ajaran” kenyataan bahwa:
kekerasan itu sensasional.
Mungkin bukan itu yang hendak diberikan ke kami semua, tapi mungkin itulah karena hati yang terseret emosi ini melakukan penerimaan. Ditambah lagi hal lainnya lagi yang menyeret emosi lebih jauh lagi, baik kejadian di Rohis maupun yang lainnya, baik sebelum itu maupun sesudahnya.
Di MAPTA, bukan kekerasan fisik yang ada seperti di STPDN atau yang semisalnya. Ini lebih kepada “kekerasan verbal” kalau kalian mengerti istilahnya. Jadi keras di kata-kata. Gambarannya ya seperti kalau ada orang marah-marah kepada kita saja. Di MAPTA itu kemarahan yang dibuat-buat jadi ada. Tapi kalau saya pernah tanya ke teman yang Bantara, minta MAPTA itu dihapus saja, katanya itu belum ditemukan penggantinya. Saya malah diminta memberi solusi. Oh, sudahlah. Itu jawaban klasik. Katanya juga itu termasuk “pendidikan” kira-kira. Jadi, dianggap kebaikan walau tidak bagitu saya memandangnya.
Ada yang mengatakan acara orientasi (entah OSPEK dsm [:dan semisalnya]) sebagai shock theraphy. Jadi mungkin “obyek penderita”-nya dibuat syok maksudnya, sebagai terapi menuju maksud dan tujuan orientasi. Dan di acara seperti inilah ada penghinaan terhadap tamu yang tidak sesuai ajaran Islam. (Tamu kok dimarahi? Boleh jadi tamu atau pengin kami pergi?) Yang populer di kalangan da’i mungkin kasus yang di Bandung, yang dikatakan di sana “anjing hu akbar”. Maksudnya terapi, tapi ternyata berubah menjadi gila. Kegilaan ini terlembaga lagi, di institusi pendidikan, dilegalkan, … (apa lagi?). Bukankah ini logika yang tidak beres dan kejiwaan (psikologi) yang menyimpang? Para pelakunya butuh diterapi juga tentunya.
Masalahnya, (sebelumnya) saya pernah menjadi CABA karena alasan dakwah/amar ma’ruf nahi munkar juga. Kalau MAPTA masih ada juga, ke mana perginya para pejuang? Tapi itulah politik Rohis/Ikhwani. Dari dulu sampai sekarang, dari Mesir sampai Magelang, mana yang berhasil? Malah da’i-nya jadi pembela kemungkaran. Tapi alhamdulillah, bukan saya yang melakukan. Lebih lanjut, MAPTA itu atas persetujuan Pembina Pramuka tentunya, juga Kepala Sekolah pastinya. Kalau orang yang tadinya mencela “ustadz-ustadz Laskar Jihad yang membuat Labib menjadi sesat”, bisakah mereka mengganti obyeknya menjadi mereka yang saya sebutkan tadi? Jika tidak bisa maka barangkali masalah sebenarnya bukanlah tentang Muhammad al-Maghlani, tapi mungkinkah itu berasal dari dendam dan sakit hati? Tentunya merekalah yang lebih mengerti, & mudah-mudahan mereka sedang tidak terseret emosi.
Kemudian juga, ketika orang menyimpangkan masalahnya menjadi soal dunia, jabatan ketua, atau juga wanita. Saya bisa berkata apa? Biarlah mulut-mulut pada bicara. Saya tidak merasa berteman dengan orang-orang Rohis, Bantara, atau yang lainnya untuk mendapat jabatan ketua Rohis dan sebagainya. Saya berharap mendapatkan bagian yang halal dari dunia ini. Saya bersyukur tidak Allah jadikan diri saya sebagai pegawai pemungut/penarik pajak, sebagaimana dulu (seingat saya) Sufyan ats-Tsauri bersujud syukur karena alasan yang sama.
Adapun tentang saya melakukan kesalahan, maka saya tidak ingat pernah menjadi pembela kemungkaran. Yang saya ingkari selama ini adalah masalah cerita yang disimpangkan, sebagaimana sebagian telah saya sebutkan. Yang belum saya ceritakan sementara/selamanya biar jadi rahasia saja, mungkin sebagai ujian/fitnah bagi “musuh” yang jauh di sana.
Ada saat saya terpengaruh gerakan reformasi, saat menjadi Ikhwani, ada saat mengenal Salafy, saat-saat menjadi agak “gila” terseret emosi. Ada saat saya introspeksi, ada saat saya lupa diri, ada saat meluapnya emosi, ada saat saya tidak peduli, dst. Cerita itu punya alur. Pembagian masa juga memestikan konteks cerita. Cerita juga ada yang meriwayatkannya. Riwayat itu juga ada yang dusta….
Saya berusaha menahan emosi supaya tidak keluar kemarahan yang seandainya ada. Tapi terkadang memang mengusik hati, mengganggu pikiran, merusak kekhusyu’an, dan seterusnya…. Saya ini juga manusia biasa.
Kalau dahaga bisa hilang dengan seteguk air…,
dan kalau rasa lapar bisa lenyap dengan sepotong roti…,
semoga saya bisa menahan marah dengan menghela nafas sekali saja.
(Seandainya bisa, ingin rasanya mengungkapkan perasaan ini dengan puisi. Tapi rasanya diri ini tidak terbiasa.)
Daripada sibuk hati ini karena memikirkan itu semua, lebih baik saya ngaji ke Ustadz Dzulqornain saja. Semoga hati ini tersetuh jadinya. Memahami arti sebuah kehidupan, yakni bahwa:
Bagi setiap muslim, kehidupan ini punya makna
Hidup ini hanya sekali
Ada pertanggungjawaban sesudah dia hidup
Ada penyesalan sesudah dia mati
Dan, di antara faidah paling sedikit yang didapatkan oleh penuntut ilmu adalah, (bahwa:)
Dunia ini hina, – tidak ada artinya
Begitulah kira-kira, barangkali ada yang salah karena saya lupa. Afwan. Jika ada yang saya bersalah padanya saya minta maaf. Sekian.
Walhamdulillah.
Google Chrome Standalone Setup or Offline Installer
Gunakan link berikut untuk men-download Chrome offline installer:
http://www.google.com/chrome/eula.html?standalone=1
Anda harus masuk dulu ke halaman ini dan menyetujui EULA/Persyaratan Layanan Google Chrome, baru bisa mendapatkan link untuk download yang terbaru.
Persyaratan Layanan Google Chrome
Persyaratan Layanan ini berlaku untuk versi kode Google Chrome yang dapat dieksekusi. Kode sumber untuk Google Chrome tersedia secara gratis berdasarkan perjanjian lisensi perangkat lunak sumber terbuka di http://code.google.com/intl/id/chromium/terms.html.
1. Hubungan Anda dengan Google
1.1 Penggunaan produk, perangkat lunak, layanan, dan situs web Google oleh Anda (dalam dokumen ini secara keseluruhan disebut “Layanan” dan mengecualikan layanan apa pun yang disediakan Google untuk Anda dalam perjanjian tertulis yang terpisah) diatur dalam persyaratan perjanjian hukum antara Anda dengan Google. “Google” adalah Google Inc. yang berkantor pusat di 1600 Amphitheatre Parkway,
Jadi Ketua ROHIS…?! Mau? Jebakan Kekuasaan? Siapa Mau?! (Updated!)
Langsung ke masalahnya, ROHIS itu organisasi ke-Islam-an di sekolah (SMU/A) di bawah OSIS. Gak beda-beda banget. Soal perasaan, siapa yang tidak mau jadi selebritis di kampus/sekolah? (Tapi, saya tidak menyatakan kalau perasaan saya seperti itu. Dan yang saya ingat, saya ingin jadi orang biasa saja. Maksudnya, saya hanya ingin memungkinkan kalau di ROHIS itu juga ada pencari kekuasaan. Politik itu menarik bagi kalangan yang demikian.)
Yang bisa ingin saya sebutkan, saya tidaklah ikut yang namanya Rohis untuk memburu jabatan ketua atau apa. Saya bisa dikatakan “aktif” di Rohis. Tapi untuk jadi pengurus nanti dulu, itu masalah lain. Masalahnya lagi, kemudian saya lebih berubah pikiran entah beberapa lama sebelum pergantian pengurus Rohis.
(Kemudian) seorang “teman” minta saya ikut mendaftar jadi pengurus karena alasan … (yang tidak perlu saya sebutkan lah). Saya pikir bolehlah jadi pengurus yang bantu-bantu sebisanya. Tapi ternyata, ketika mau dipilih ketua Rohis-nya, semua laki-laki (a.k.a. ikhwan) di-“wajib”-kan ikut jadi kandidat, dengan sistem demokrasi lagi, nanti orasi, ada voting, de el el lah pokoknya.
Saya sejak tahu itu sudah minta “hak” saya untuk tidak diikutkan sebagai kandidat, tapi tidak boleh. Kemudian ketika sistemnya demokrasi, saya juga menolak hal ini. Tapi ternyata saya juga yang disalahkan. Katanya (kira-kira), Rohis ini masih punya pengurus lama, jadi …. Oh, sudahlah. Padahal dulu kata mereka Rohis itu dari, oleh, dan untuk kaum muslimin Smansa. Gmana? (Demokrasi lho ini!)
Di sisi lain, saya juga dituduh pengin jadi Ketua Rohis. Saya pikir, dari mana mereka tahu saya pengin jadi ketua? Apa ketika saya tidak mendaftar jadi pengurus Rohis kecuali setelah ada permintaan dari “seseorang”, itu dianggap sebagai manuver politik, pura-pura tawadhu’? Atau itu isu yang dihembuskan bersama nafas mereka yang tidak suka? Kok jadi kotor ya politik di Rohis ini? Bukankah seharusnya…? Tapi, sudahlah.
Dituduh seperti ini saya ya… tidak merasa awalnya. Lha wong saya gak kayak gitu kok. Tidak merasakan efeknya juga awalnya. Tapi lama kelamaan terasa juga, lama-lama…. Padahal telah saya biarkan, dengan harapan, “itu hanya perasaan/prasangka/was-was saya saja”. Tapi itulah, manusia itu kalau sudah percaya pada gosip itu gak tahu kitanya mau bilang apa. Nanti membantah dikira hanya berkilah. Diam saja dikira benar adanya. Soalnya juga posisi saya sangatlah lemah. Akhirnya, diam saja lah. Barangkali badai segera berlalu. Tapi…, sudahlah.
[1.] Membicarakan hak saya, sebagai saudara se-Islam, teman sekolah, teman ngaji, teman baik, teman dekat, juga terutama lagi sebagai seseorang yang dimintai bantuan, sungguh saya merasa berhak untuk meminta tidak diikutkan dalam pemilihan ketua. Apalagi saya (atau kami) tidak diberitahu sebelumnya. Tapi itulah, sikap macam mana yang mereka berikan. Saya merasa begitu disusahkan. Siapa mau disusahkan seperti ini? Siapa juga yang membuat pemilihan yang demokratis di Rohis, itu pun belum saya tahu sampai sekarang.
[2.] Menjebak saya (atau dkk.) ke dalam sistem demokrasi, sungguh menghinakan. (Note: Orang silakan saja bangga siapanya ikut jadi kandidat ketua atau apa, ikut pemilu, dsb. Tapi sungguh, saya merasa terhina diperlakukan seperti ini. Orang ingin kekuasaan, ingin dikenang banyak orang. Tapi sudahlah, bagi kalian Muhammad al-Maghlani tidak usah menjadi kenangan.) Inilah mengapa saya bilang, saya dijerumuskan. Ini juga yang saya sebut sebagai “jebakan politik dan kekuasaan”. Ini mungkin bukan awal dari masalah, tapi ini saya perkirakan loncatan besar menuju banyak masalah yang lainnya.
[3.] Menuduh saya ingin jadi ketua. Padahal saya kira, saya ini sudah menjadi yang paling tidak mau jadi ketua saat itu, tapi beginilah nasibnya terjerumus dalam jebakan kekuasaan. Kalau sebenarnya mereka tidak mau saya jadi ketua, maka sudahlah, biar saya tidak ikut jadi kandidat saja. Benar-benar logika yang tidak beres bagi saya. (Menurut kalian bagaimana?) Bagaimana mencerna masalah ini? Kadang dalam hati saya ingin mengungkapkan segala kekesalan ini dengan mengatakan, “Ambil saja lah kekuasaan itu untuk kalian dan biarkan aku pergi dengan kehidupanku.” Apa mereka pikir tuduhan mereka bukan masalah apa-apa? Lagipula siapa yang merasakan dampaknya. Di dunia tanpa sanad/rawi (mata rantai periwayatan), orang yang menyebar gosip akan terlupakan, dan ketika itu tersebar dan dipercaya manusia maka biang keladinya pun tidak akan lagi bisa membela korbannya. Pikirlah. Pendusta mana bisa dipercaya. Iya kan? Lihatlah bekas-bekas yang kalian tinggalkan. Siapa yang mau berlaku adil?
[4.] Ada alasan kenapa saya lebih suka diam walau ada masalah banyak (yang salah satu yang besar adalah ini). Ketika di Rohis, tidak akan kita dapati mereka-mereka itu kecuali saudara kita, (kecuali ada penyusup di antara kami). Maka saya pun enggan mencari itu siapa dan agar kemudian bisa mengumumkannya pada “dunia”. Praktis itu akan merusak apa yang ada. Padahal baru tahu saja sudah menimbulkan sakit hati pada orangnya. Itulah mengapa saya malas mencari siapa dan siapa. Tapi, siapa yang tidak kesal hatinya dijebak seperti tadi. Siapa yang akan mengembalikan hati yang telah hancur. Saya pikir, “Biarlah, ini mungkin segera berlalu.” Korban paling murah kan ya… berkorban perasaan lah. Kenyataannya, dorongan jiwa, sakitnya perasaan, mungkin bisa diungkapkan dengan kalimat, “Hati ini enggan kembali kepada pengkhianat.” Salahnya perasaan saya atau salah siapa coba?
[5.] Ketika saya merasa tidak sanggup kecuali diam, maka saya di sini ingin menjelaskan bahwa banyak kabar yang tersebar tentang saya adalah cerita yang tidak jelas sanadnya, kacau matannya, dan kalau orang awam tentu lebih berhak dimaafkan. Tapi bagaimana dengan mereka yang sudah ngaji, salafi lagi. Bukankah ini jadi lebih mengecewakan. Tapi karena lemah daya, biarlah orang yang suka fitnah berlumuran dengannya. Toh, sebenarnya apa urusannya dengan Muhammad al-Maghlani. Kadang kalau kesal dan marah ingin rasanya saya katakan, “Makaaan itu kedustaan!”
Kesimpulan saya: “Inilah salah satu yang merusak persaudaraan: Kekuasaan.” Saya jadi enggan ngaji kepada mereka yang mementingkan urusan kekuasaan. Jelas, saya tidak suka dengan partai Pencari KekuaSaan (PKS). Demikian juga Rohis, logikanya… saya tidak berteman, menjalin ukhuwah, untuk diperlakukan seperti itu. Sungguh, kalau mereka/siapa saja mau beradu marah dengan yang namanya “Labib”, maka belum habis kemarahan di hati ini sebenarnya. Ditambah lagi bangkitnya suara-suara yang merusak suasana hati ini. Di sini tersimpan luka sampai tempat yang dalam.
Jika ingin saling menyalahkan, itu sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Setiap orang kan punya kesalahan. Tinggal dijumlah saja, pakai kalkulator atau yang lebih canggih darinya, siapa yang paling banyak salahnya di antara kita. Daripada mendengar suara-suara yang tidak mengenakkan, diri ini lebih suka mengenang saat dulu, ketika dalam kajian Al-Ustadz Abdul-Haq, ketika menasihatkan untuk “menghapus dendam kepada kaum muslimin.” Lebih baik mana daripada ini? Alhamdulillah, diri ini masih mengingatnya.
Mengertilah, seseorang yang diseret oleh emosi maka bagaimana dia akan mengerti keadaan dirinya? Dan, untuk mereka yang masih saja mengungkit soal Laskar Jihad di hadapan Muhammad al-Maghlani sungguh diri ini curiga, ada apa? Jika itu untuk menyakiti hati ini, maka sebenarnya tidak ada kata yang ingin terucap kecuali, “Selamat tinggal”. Saya merasa tidak butuh. Berikan saja kepada orang-orang yang lebih suka. [Update: Mungkin nggak sejauh itu, cuma saja hati ini akan lain jadinya.]
Saya menyadari bahwa saya juga salah, pernah salah, atau bahkan sering salah. Tapi ketika permasalahannya berubah menjadi gila, saya harus bagaimana? Mungkin saja mereka sebenarnya ingin mengatai saya ini Khawarij atau apa. Tapi mereka mengalihkannya supaya lebih halus kedengarannya di telinga para sekutunya. Entah seberapa suka mereka menyalahkan Muhammad atau Laskar Jihad karena telah melakukan kesalahan. Seolah semua adalah khilafiyyah dan selebihnya, tiada yang salah kecuali Laskar Jihad (atau juga Muhammad ini). Kalau mau bicara ya kita tanya, fiqih mereka itu dari mana? Tapi daripada ribut-ribut, diam sajalah. Sudahlah.
Saya tidaklah mengaku-aku suci, salafy sejati, atau yang semisalnya. Tentunya pada suatu masalah ada pembahasan. Jika pembicaraannya tentang ‘Aidh al-Qorni yang menyimpang, lalu kenapa berubah menjadi Laskar Jihad dan sebagainya? Atau inikah hawa nafsu untuk saling menyalahkan? Bukankah telah jelas fatwa ulama, telah jelas juga fiqihnya, lalu mau apa? Bagi saya, taat pada ulama seperti Syaikh Robi’ itu lebih dekat kepada keselamatan. Begitu juga soal Abul-Hasan al-Ma’ribi. Tentunya dan semestinya setiap kita memilih yang terbaik bagi diri kita. Adapun saya, lebih memilih mereka-mereka yang mensucikan dirinya dari pengaruh-pengaruh ‘Aidh al-Qorni atau Abul-Hasan al-Ma’ribi. Logikanya bisa dicerna dari kisah yang saya ingat tentang ‘Ali ibnul-Madini dan Imam Ahmad, juga Imam al-Bukhori, juga Imam Abu Hanifah (seandainya kalian tahu saja). Jika masih mau melanjutkan masalah Laskar Jihad, selesaikan saja urusan itu di antara kalian. Memangnya ada apa di antara kita?
Saya tidak mengaku paling benar dalam masalah ini atau yang lainnya, tapi bukankah ada timbangan keadilan. Di kalimat-kalimat terakhir ini juga saya ingin meminta maaf atas segala kesalahan saya. (Seperti mengulang momen lebaran atau perpisahan saja.) Tapi ini serius. Jika sudah saling memaafkan, sebenarnya biarlah yang terkubur tetap pada tempatnya. Kembali mengungkitnya bisa malah membangkitkan dendam, sakit hati, dan kesedihan. Saya dari dulu ragu mau menulis ini bagaimana. Tapi inilah yang ingin saya ungkapkan sekarang. Maaf kepada teman-teman, mungkin masalahnya bukan lagi tentang kalian. Banyak hal yang telah terjadi. Dunia ini tidak sepi dari masalah. Selesai.
Wallohu a’lam.
Afwan.
To be continued… (Klik di sini)
5 Versi Facebook: Standar, Lite, Mobile, Zero, dan Touch
Jika kalian membuka facebook.com di PC, itulah versi standarnya. Gunakan alamat lite.facebook.com atau m.facebook.com (m = mobile) jika internet yang kalian pakai cukup/lumayan lambat. Untuk facebookan di hp, bisa pakai versi mobile atau versi zero.facebook.com atau 0.facebook.com. Yang terakhir gratis katanya, tapi halaman awalnya tetap kena tarif GPRS. Ketika saya coba di browser Opera 10, hasilnya seperti ini…:
Gratisnya itu untuk operator tertentu (misal: Telkomsel) dan pada browser bawaan ponsel. Wallohu a’lam.
Kemudian masih ada versi x.facebook.com (Nokia seri X) dan iphone.facebook.com (jelas untuk Apple’s iPhone). Begitulah. Tetapi…, inilah. Saya buka alamatnya pakai Opera 10 (browser kesayangan) ternyata di-forward ke touch.facebook.com dan membuat saya memberi judul seperti terlihat di atas. Barangkali ada versi yang lain, tapi ini dulu saja.
Koleksi File MP3 Ceramah Al-Ustadz Dzulqornain al-Makassari tentang Terorisme
Kecepatan Smart Telecom ZTE C261 di Jl. Veteran – Warungboto @ Rabu, 5 Mei 2010



Note: Nama file tertanggal tahun 2009, itu karena jam di sistem PC saya mundurkan satu tahun.
Download File: Industri Penerbitan Jama’ah Islamiyyah di Indonesia (Jamaah Islamiyah Publishing Industry in Indonesia) – International Crisis Group Report
Seperti apakah industri penerbitan yang dimiliki oleh kalangan JI? Mungkin file ini bisa menambah wawasan Anda sekalian akan bisnis yang membuat kelompok ini eksis & berkembang. Bacalah agar engkau tahu. Paling tidak Anda jadi waspada. Bukan berarti buku mereka jelek semua, atau menyesatkan semua, tapi… waspadalah. Hati-hati juga, dengan ustadz gadungan, jangan sampai terpengaruh dengan kesesatan ustadz yang menyimpan kekaguman terhadap Usamah bin Ladin dan yang semisalnya. Untuk daftar penerbitnya & problematika yang ada, download saja file tersebut & bacalah. [Catatan: Benar tidaknya apa yang termuat dalam dokumen tersebut silakan diperiksa sendiri dengan metode ilmiah yang Anda yakini. Wallohu a'lam.]
Download
Instruksi: Klik langsung atau klik kanan & pilih [Save Link As...]. Sama saja.
Internetan pakai Smart Haier 1200 (& ZTE C261, juga Flash) …
Internetan pakai Smart (modem hp Haier) sangat-sangat lambat, padahal dari sini ke markas besar Smart di (Jl. Kenari) Jogja sangat dekat. Yakni di Jl. Veteran – Warungboto. Di statusnya tertera 115,2 Kbps, tapi real-nya jauh sekali (?). Cuma beberapa kbps. Membuka Google saja lama sekali. Sampai kapan hidup selambat ini?
(Update: Sekarang saya sudah pakai ZTE C261, lumayan lambat tapi masih lebih cepat dari Haier 1200. Download bisa 1-4 KBps. Kalau Tsel Flash bisa 12 KBps pas pagi hari, bisa 40-an KBps kalau dini hari. Begitulah.)
